Oleh: Rusmadi

(Tulisan ini pernah diterbitkan di BSE Edukasi, edisi Oktober 2009)

Matahari terbit. Fajar tiba. Dan aku melihat delapan juta kanak–kanak tanpa pendidikan … Aku bertanya. Tetapi pertanyaan–pertanyaanku. Membentur meja kekuasaan yang macet. Dan papan tulis–papan tulis para pendidik. Yang terlepas dari persoalan kehidupan … Aku bertanya. Tetapi pertanyaanku. Membentur jidat penyair–penyair salon. Yang bersajak tentang anggur dan rembulan. Sementara ketidakadilan terjadi disampingnya. Dan delapan juta kanak–kanak tanpa pendidikan. Termangu–mangu di kaki dewi kesenian … Inilah sajakku. Pamplet masa darurat. Apakah artinya kesenian. Bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir. Bila terpisah dari masalah kehidupan.

Potongan bait-bait di atas adalah goresan mata tinta seorang Rendra yang berjudul Sajak Sebatang Lisong, salah satu dari sederet karya sastra Rendra yang mempesona. Saya mungkin alpa, saya bukanlah penikmat sastra yang baik. Bukan pula sastrawan, apalagi kritikus sastra. Saya bahkan pernah menaruh sinis pada dunia sastra yang dalam alam pikiran saya terlalu mengada-ada, mengawang, pemborosan, dan tidak taat asas. Saya bahkan pernah menyebut dunia sastra sebagai fundamentalisme dalam bentuk lain. Tidak lain karena (maaf) ekslusifnya dunia yang satu ini. Hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki sentuhan estetis yang mampu mengapresiasi dunia sastra secara apik.

Dunia sastra seperti mangajukan sumpah serapah bahwa penikmatnya hanyalah mereka yang lahir telah mencium ruh sastra yang estetis itu. Orang awam seperti saya yang tidak memahami betul semiotika sastra mungkin hanyalah bisa mencibir dengan rasa nyinyir. Tak ayal, dunia sastra adalah sisi lain dari teologi bahasa, sebuah kredo agung yang hanya bisa dipahami oleh para peminat dan penikmat bahasa. Seorang awam seperti saya jika mengapresiasi dunia sastra (termasuk menulis tulisan ini) hanyalah tidak lain berupa letupan-letupan ambisius seorang ”mualaf sastra”, yang absah disebut ”arus pinggiran” yang menyempal.

Tetapi rupa-rupanya, pada sudut lain saya merasa mengagumi kekuatan bahasa yang memang begitu ajaib. Ada saat-saat dimana horison makna tidak bisa diwadahi dengan bahasa apapun kecuali bahasa sastra yang estetis itu. Dunia sastra, tak pelak mampu menjembatani kekosongan jalinan horison makna, dan bahkan melalui sastra maknanya jauh lebih kaya dari pada yang dimaknai. Tak terkecuali karya sastra yang lahir dari tangan lihai seorang Rendra si Burung Merak itu. Kepergian Rendra untuk selamanya benar-benar membuat saya merasa kehilangan seorang maestro bertangan dingin. Saya teringat betul saat-saat saya masih aktif memegang megaphone turun ke jalan, berbaur dengan para aktifis jalanan yang umumnya kagum pada sosok sekaliber Karl Mark, Che Guevara ataupun Antonio Gramsci. Suara-suara lantang Rendra dalam gubahan sastranya benar-benar menginspirasi saya menjadi seorang yang memilih berpikir kiri.

Saya hampir-hampir tidak pernah melupakan Sajak Sebatang Lisong goresan tangan Rendra yang seolah-olah membuatku bangun dari tidur panjang. Saya teringat betul ketika ia berkata: ”Inilah sajakku, Pamplet masa darurat, Apakah artinya kesenian, Bila terpisah dari derita lingkungan, Apakah artinya berpikir, Bila terpisah dari masalah kehidupan”. Hentakan kata-kata Rendra itu sedikit banyak memberi inspirasi bagi banyak anak muda seperti saya waktu itu. Sajak Sebatang Lisong, saat kita baca dan kita bawa ke dalam dunia tafsir, maka ia sepenuhnya menjadi miliki pembaca. Saat saya membacanya, saya seperti merasakan adanya nuansa ketidak-kakuan dalam karya Rendra itu. Ia bahkan melampaui rupa-rupa sastra pada zamannya yang tampak sangat canggung berbicara realitas sosial dan politik. Ia berbicara sastra dengan bahasa kritik sosial, atau berbicara kritik sosial dengan bahasa sastra, dan atau juga berbicara kritik sastra dengan sastra itu sendiri. Ia bahkan tidak juga canggung mengkritik sastrawan pada masanya yang ia sebut seperti ”penyair–penyair salon” yang hanya bersajak tentang anggur dan rembulan, tetapi tidak peka pada ketidakadilan yang menganga di sampingnya. Saya membaca Sajak Sebatang Lisong, meminjam istilah Sapardi Djoko Damono 1999, seolah menemukan ”hibriditas” dalam goresan karya sastra Rendra itu. Tetapi saya tidak menempatkan hibriditas dalam pengertian identitas yang rumit sebagaimana dalam dirkursus cultural studies ataupun diskursus yang lain.

Ya, Rendra telah berbicara sastra dengan bahasa kritik sosial, dan berbicara kritik sosial dengan bahasa sastra, dan atau juga berbicara kritik sastra dengan sastra itu sendiri. Nuansa hibrida dalam sastra Rendra benar-benar kentara. Ia bukan hanya menyajikan sastra sebagai sebuah sastra an sich, laiknya sastra-sastra picisan dan erotisme (penyair-penyair salon). Tetapi dalam gubahan sastra Renda, terasa benar mengalir darah pergerakan sosial dan politiknya yang kuat. Khalayak tetap mengingat sastra Rendra begitu kental dengan kritik untuk rezim kekuasaan, birokratisasi, kapitalisme, globalisasi, ideologi pembangunanisme di negara-negara dunia ketiga yang dipaksakan, dan praktik-praktik hidup membelenggu. Sebagai penyair, ia tak sungkan berselancar memasuki ranah sosial dan politik dengan kelihaian sastranya. Si Burung Merak ini menyajikan puisi-puisi dan sajak-sajak kontroversial tentang protes terhadap pembangunanisme, kebobrokan pendidikan, diskriminasi sosial, kuasa pasar dan negara, komodifikasi tradisi, serta marginalisasi kaum lemah.

Dalam Sajak Sebatang Lisong, Rendra dengan lantang bersuara tentang bagaimana nasib anak-anak Indonesia yang tidak bisa mengenyam pendidikan, tentang pendidikan kita yang seperti tercerabut dari akar kehidupan itu sendiri karena hanya berisi diktat, tentang kebobrokan birokrasi, tentang krisis sosial yang tak pernah ditemukan ujungnya, tentang ideologi pembangunanisme yang dipaksakan oleh negara-negara maju sementara para teknokrat kita hanya bisa menganggukan kepala dan bahkan menyalahkan tradisi masyarakat Indonesia sebagai si pemalas, tentang suara-suara kritis yang dibungkam oleh rezim, tentang sastrawan picisan yang hanya mahir berbicara tentang segala hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan kehidupan riil yang akut, dan tentang komodifikasi tradisi dan kuasa pasar global yang mengalir melalui iklan.

Rendra juga mengajak kita untuk keluar dari persoalan sosial yang akut itu dengan membangun kemandirian dan tidak lagi bersandar pada kekuatan asing. Karya-karya hibrida Rendra yang berbau protes memang begitu aktif di tahun-tahun 1970-an. Tak pelak, sastra hibrida Rendra ini dianggap berbahaya oleh rezim, sehingga ia sering dicekal. Ia pernah ditahan oleh pemerintah berkuasa saat itu (1978), dan naskah dramanya dilarang dipentaskan. Adalah naskah drama seperti SEKDA, Mastodon dan Burung Kondor yang nyata-nyata telah dilarang untuk dipentaskan di Taman Ismail Marzuki. Di samping karya berbau protes, Rendra juga sering menulis karya sastra yang menyuarakan kehidupan kelas bawah seperti puisinya yang berjudul Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, Pesan Pencopet Kepada Pacarnya, Blues untuk Bonnie, Mencari Bapak, Nyanyian Angsa, dll. Selain karya sastranya mempertunjukkan pergerakan sosial politik, hibriditas sastra Rendra juga tampak pada kepiawaiannya memerankan dua peran sekaligus; sebagai sastrawan sekaligus kritikus sastra.

Dalam Sajak Sebatang Lisong itu, Rendra telah mempraktekkan kritik sastra dengan sangat apik. Ia tampak memerankan diri sebagai seorang sastrawan dan sekaligus kritikus sastra secara sekaligus. Tentu kritik sastra dalam pengertian yang tidak rumit yang membutuhkan cara baca dan pendekatan. Tidak sebagaimana kritik sastra yang bersandar pada semiotika ala Pierce atau Lotman, ataupun Sarte dan madzhab kritik sastra yang lain. Padahal hal ihwalnya, sastrawan dan kritikus sastra sering berdiri pada posisi diametral, selalu berhadap-hadapan, tak bisa ditemukan, karena yang satu berada dalam posisi selalu bertanya sementara satu yang lain selalu berada pada posisi menjawab. Seorang sastrawan seringkali selalu berposisi sebagai penanya, tentu saja sastrawan bertanya bukan karena tidak mampu menjawab. Sementara kritikus sastra seringkali berposisi sebagai penjawab. Dan tentu saja, seorang kritikus menjawab bukan karena tidak mampu bertanya. Keduanya hanyalah konsekuensi dari pilihan ekspresi sebagai sastrawan dan atau kritikus sastra. Meskipun sastrawan dapat menjawab, pada saat-saat tertentu yang tidak sesuai dengan fungsinya, ia tetap lebih baik memilih bertanya, bukan menjawab. Begitu pula kritikus sastra, meskipun dapat bertanya, pada saat-saat tertentu yang tidak sesuai dengan fungsinya, ia tetap lebih baik memilih menjawab, bukan bertanya. Kalaupun ada sastrawan yag senang menjawab, tetapi kesenangan itu tetap tidak mengatasi kesenangan mereka dalam bertanya. Atau bahkan, ketika sastrawan menjawab -secara implisit- sesungguhnya, ia tidak dalam kapasitasnya sebagai sastrawan, melainkan sebagai kritikus. Hal ini boleh saja dianggap mengecewakan, tetapi bagi seorang awam seperti saya ini tentu menggembirakan untuk khazanah dunia sastra dan kritik sastra.

Dalam Sajak Sebatang Lisong, Rendra tampak juga sedang memerankan peran sebagai kriitikus sastra, dan tentu saja sebagai seorang sastrawan. Lihatlah beberapa bait berikut:

Aku bertanya

Tetapi pertanyaanku

Membentur jidat penyair–penyair salon

Yang bersajak tentang anggur dan rembulan

Sementara ketidak adilan terjadi disampingnya

Dan delapan juta kanak–kanak tanpa pendidikan

Termangu–mangu di kaki dewi kesenian …

Inilah sajakku

Pamplet masa darurat

Apakah artinya kesenian

Bila terpisah dari derita lingkungan

Apakah artinya berpikir

Bila terpisah dari masalah kehidupan

Sindiran Rendra, ”membentur jidat penyair–penyair salon yang bersajak tentang anggur dan rembulan”, dan ”apakah artinya kesenian bila terpisah dari derita lingkungan, apakah artinya berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan” adalah salah satu kritik Rendra bagi kebanyakan sastra yang berkembang saat itu, yang melulu dihinggapi nuansa picisan dan erotisme. Rendra seperti berdialog dengan dirinya sendiri, dimana diri yang satu sebagai sastrawan sementara diri yang lain sebagai kritikus sastra. Pada bait-bait awal Sajak Sebatang Lisong itu, Rendra tampak piawai memerankan diri sastrawannya, sementara ia kemudian menutupnya dengan kepiawaian memerankan diri sebagai sang kritikus sastra.

Sekali lagi, tentu kritik sastra dalam pengertian yang tidak rumit yang membutuhkan cara baca dan pendekatan, sebagaimana sudah saya sebut di muka. Kritik sastra yang melekat adalah kritik sastra dalam pengertian penanya dan penjawab, dimana seorang sastrawan seringkali selalu berposisi sebagai penanya, sementara kritikus sastra seringkali berposisi sebagai penjawab. Rendra seolah mengawalinya dengan pertanyaan pada hakikat realitas sosial-politik dan juga realitas rupa-rupa sastra pada zamannya yang tampak hanya hingar bingar pada picisan dan erotisme. Kemudian Rendra mengakhirinya dengan jawaban pada keduanya. Simaklah kembali nukilan dua bait Sajak Sebatang Lisong di atas yang berbicara perihal ”jidat penyair–penyair salon yang hanya bersajak tentang anggur dan rembulan”, dan ”kesenian yang terpisah dari derita lingkungan, dan pemikiran yang terpisah dari masalah kehidupan”. Akhirnya, hibriditas sastra Rendra adalah bagian dari keberagaman karya-karya sastra yang sudah lanjur terjuntai dalam gugusan khalayak.

Dalam berhadapan dengan khalayak itu, tugas karya sastra adalah mempertanyakan kembali sejumlah peristiwa yang terjadi sebagai satu kesaksian dari setiap dan pandangan seorang pencetus karya sastra. Sebuah karya sastra bukanlah kebenaran yang tunggal, pun dalam lingkungan masyarakat yang sebenarnya. Karenanya, karya sastra juga tidak perlu dipaksakan sebagai sumber moral semata, ataupun hakikat dari sebuah mausul kebenaran yang semestinya. Karya sastra hanyalah salah satu versi sebuah sudut pandang terhadap kompleksitas permasalahan di medan hiruk-pikuknya versi-versi yang lain. Ada kalanya –meskipun kategori ini sangat simplistis- sastra memiliki ruh mengusung peneguhan moralitas, dan ada kalanya sastra yang mengusung perlawanan pada kemapanan moralitas laiknya ekspresi kevulgaran Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu.

Setelah kita memafhumi segala bentuk tutur di atas, maka “kebenaran” dalam karya sastra bersifat sementara, begitu juga dengan tafsir sebuah karya sastra. Tetapi karya sastra, sebagaimana milik Rendra, semestinya mampu mempertanyakan kembali hal ikhwal yang dirasakan, bahkan yang sudah sedemikian mapan dan tertib dalam realitas kehidupan. Wallahu’alamu bi al-Shawaab.