Oleh: Rusmadi

(Tulisan ini merupakan pengantar editor untuk buku Dialog Teologis Islam-Kristen, Walisongo Press, 2009)

Dalam sosiologi masyarakat yang heterogen secara religius, agama bisa saja muncul dalam wajahnya yang paradok. Di satu sisi ia mampu menjadi perekat dan integrasi sosial, tetapi tidak jarang juga justru memicu munculnya konflik dan disintegrasi sosial. Meskipun konflik ini tidak semata-mata karena faktor agama, tetapi rupa-rupanya, agama terkadang justru menjadi sumbu paling mudah menghantarkan konflik dan disintegrasi sosial itu. Pengalaman yang ditunjukkan oleh konflik agama antara Kristen dan Islam adalah sebagian dari peristiwa yang membenarkan argumentasi di atas. Konflik agama sejatinya hanya bisa diselesaikan oleh agama itu sendiri melalui tangan-tangan arif para pemuka dan pemeluk agama. Karenanya, dialog agama adalah satu hal yang mendasar yang harus dilakukan. Mungkin tidak hanya dialog sosiologis, tetapi juga dialog-dialog teologis.

Dua tradisi agama besar dunia (Kristen dan Islam) yang seringkali terlibat konflik, sepertinya harus sama-sama mengaca secara introspektif pada keyakinan dokrtin agamanya. Benarkah agama telah pantas disebut menyebar benih kedamaian jika justru memperagakan gerak konflik?. Atau benarkah agama tidak memiliki titik temu satu sama lain, sehingga harus berdiri berbeda secara diametral? Jika diterima secara arif oleh kalangan agamawan, pertanyaan-pertanyaan ini menjadi awal bagi tumbuh kembangnya dialog agama. Meskipun bukan satu-satunya, tetapi dialog teologis agama-agama adalah fundamen penting bagi kehidupan keagamaan yang damai, yang diharapkan dari dialog agama ini lahir integrasi sosial. Pada zaman Katholikos Timotius I (± 728 – 823 M), dialog teologis pernah dilakukan dengan dua khalifah Islam. Dampak dari dialog itu mampu diberikannya jaminan perlindungan kepada orang-orang Kristen oleh Khalifah. Selain itu, umat Islam dilarang memperlakukan orang Kristen sebagai warga kelas dua, bahkan jemaat Kristen tidak diperbolehkan dipungut jizyah. Padahal pada masa itu, Islam sedang dalam masa kebencian yang paling dalam terhadap gereja, khususnya Gereja Byzantium. Sangat disayangkan, pada akhirnya dialog teologis ini hanya berlangsung dalam kurun waktu yang relatif singkat dan terbatas. Konflik Islam-kristen pun berkecamuk hingga munculnya Perang Salib.

Dialog teologis semacam itu sejatinya telah dan tengah berlangsung. Banyak sarjana Barat seperti Henri Michaud, Guillo Basetti Sani, Geoffery Parrinder, Neal Robinson, dan Obbjorn Leirvik yang telah mengkaji Yesus dalam al-Qur’an. Karen Amstrong, seorang sejarawan bahkan telah mengkaji Tuhan dalam tiga agama besar dunia, Yahudi, Kristen, dan Islam. Usahanya ini telah mampu melahirkan karya monumental yang hampir dibaca di semua belahan dunia. Begitu juga sebaliknya, banyak sarjana muslim yang berusaha mengkaji kekristenan. Sebut saja misalnya Mahmud Ayub, Abbas Mahmud al-Aqqad, M. Kamil Hussein. Bahkan jauh sebelum mereka, al-Ghazali telah mengkaji kekristenan dalam Kitab Rad al-Jami’ah. Buku karangan Zainul Arifin yang berjudul Monoteisme Kristen; Nontrinitarianisme dalam Dialog Islam ini merupakan kajian lanjut atas apa yang telah dirintis oleh berbagai sarjana, baik oleh kalangan Barat Kristen maupun kalangan Islam.

Penulisnya mencoba mengungkap satu tema dialog yang paling krusial yang jarang disentuh oleh para sarjana-sarjana yang telah lebih dulu masuk dalam perbincangan dialog antar agama, yakni persoalan trinitarianisme Kristen. Penulisnya mengungkap secara gamblang ajaran monoteisme dalam berbagai denominasi Kristen, yang ia sebut sebagai nontrinitarianisme. Denominasi Kristen yang mengakui monoteisme misalnya adalah Kristen Unitarian atau Kristen Arian, kemudian Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Akhir Zaman (Gereja Mormon), Iglesia ni Cristo, dan Saksi Yehuwa. Namun selama ini masyarakat hanya mengenal doktrin trinitas sebagai doktrin utama kekristenan, sementara masyarakat Islam selalu menggunakan doktrin monoteismenya yang kental, sehingga dialog teologis Islam-Kristen hampir pasti menemui jalan terjal. Diharapkan dengan terbitnya buku ini turut memberi kontribusi bagi kajian-kajian teologis Islam-Kristen, dan membuka dialog teologis yang seluas-luasnya. Akhirnya, selamat membaca.

Semarang, Oktober 2009 walisongopress