Oleh: Rusmadi

 

Resensi Buku

(Resensi ini pernah dimuat di Majalah INSIDE, edisi Oktober 2008). Judul Buku : Agama-Agama Baru di Indonesia. Penulis: M. Mukhsin Jamil, Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Tahun Terbit : Cetakan I, Maret 2008, Tebal: 214 + xxii

Kegelisahan publik tentang fenomena munculnya agama-agama baru mungkin sedikit terjawab, saat disuguhkan dengan hadirnya buku yang cukup menantang, Agama-Agama Baru di Indonesia, buah karya M. Mukhsin Jamil ini. Ia mencoba mengungkap fenomena menjamurnya “agama baru” yang menghebohkan di penghujung tahun 2007. Adalah Ahmad Mushaddiq yang mengaku sebagai nabi baru dengan gelar al-Masih al-Mau’ud (penyelamat yang ditunggu-tunggu), dan mendeklarasikan al-Qiyadah al-Islamiyah sebagai agama barunya.

Jauh sebelum itu, kita juga dikejutkan dengan fenomena serupa. Kelompok Tahta Suci Kerajaan Eden pimpinan Lia Aminuddin (Lia Eden) muncul dengan begitu kontroversial. Lia mengaku mendapat wahyu dan menjadi juru selamat bagi manusia. Singkatnya berbagai agama baru muncul bak jamur di musim hujan. Spasial pertumbuhannya membentang luas di berbagai wilayah di seantero Nusantara. Kenyataan ini tentu saja semakin mengaburkan tesis sekularisme tentang kematian agama, karena yang muncul justru kebangkitan agama-agama dengan berbagai varian ekspresi keagamaannya.

Baik al-Qiyadah al-Islamiyah maupun kelompok Tahta Suci Kerajaan Eden adalah sebagian dari begitu banyaknya agama-agama baru yang muncul. Ia lebih dari sekedar aliran agama, karena telah memenuhi syarat untuk disebut agama (dalam pengertian struktural). Sebagian dari kita mungkin tercengang, sebagian yang lain mungkin mencap sesat, sempalan, lalu dilarang dan diberangus, karena dianggap bertentangan dengan keyakinan agama pada umumnya (ortodoksi). Toh pada akhirnya agama-agama baru ini tetap saja muncul dengan silih berganti.

Tidak hanya menelaah agama-agama baru itu, penulisnya juga mengangkat ekspresi keagamaan lain, karena fenomena semacam ini ternyata juga paralel dengan –misalnya- fenomena sufisme kota dengan dzikir dan tangisan do’a yang sering tampil di layar televisi. Juga gerakan Islamisme yang bersemangat mengusung ideologi mendirikan negara Islam. Yang membedakan adalah fenomena yang disebut pertama (al-Qiyadah al-Islamiyah dan kelompok Tahta Suci Kerajaan Eden) dianggap sesat dan sempalan. Sementara fenomena yang disebut kedua (sufisme kota) dan ketiga (Islamisme) dianggap sebagai kebangkitan Islam Indonesia.

Melalui buku ini, kita diajak untuk melihat secara proporsional. Penulisnya mencoba memposisikan secara jelas bahwa sempalan dan ortodoksi hanyalah sesuatu yang bersifat kontekstual sesuai dengan ruang dan waktu. Dalam ruang dan waktu itulah ortodoksi ditentukan oleh relasi kuasa pengetahuan. Artinya, dalam banyak hal, ortodoksi adalah faham yang didukung oleh penguasa, sedangkan faham yang tidak disetujui dicap sesat dan dianggap sempalan (agama pinggiran).

Dengan pendekatan sosiologis yang kental, buku ini berusaha menjawab siapa saja yang penasaran pada merebaknya “agama-agama baru” tersebut. Apa faktor penyebabnya, dan bagaimana seharusnya kita, dan juga negara mengambil sikap. Karenanya, pembaca tentu saja tidak akan menemukan jawaban yang detail mengenai bagaimana ajaran-ajaran agama baru itu, kecuali hanya diuraikan sekilas. Tetapi di sinilah kejelasan posisi dan keberanian buku ini. Ia melampaui pendekatan teologis yang justru sudah tidak lagi memadai untuk studi ini.

Dalam banyak hal, pendekatan teologis justru memperkeruh suasana. Simak saja misalnya, ketika MUI mengeluarkan fatwa sesat dan meminta pemerintah untuk melarang Jama’ah Ahmadiyah. Kekerasan terhadap komunitas ini terjadi dimana-mana, karena pelakunya merasa mendapatkan legitimasi yang shahih. Peristiwa semacam ini bukannya tanpa soal, mengingat prasyarat negara demokratis adalah menghargai hak-hak setiap warganya, termasuk hak-hak minoritas. Karenanya, perdebatan mengenai fenomena munculnya agama-agama baru, dan berbagai reaksi yang muncul terhadapnya akan bersinggungan dengan perdebatan mengenai regulasi tentang kebebasan beragama di Indonesia.

Mengenai faktor penyebabnya, buku ini mengungkap dua faktor paling dominan yang mempengaruhi munculnya agama baru ini; Pertama, faktor transformasi global yang membawa dua problem kehidupan keagamaan secara sekaligus, yakni problem modernitas dan problem intelektual. Perdebatan yang muncul pada faktor pertama ini adalah mengenai bagaimana masyarakat beragama bisa hidup di tengah tradisi di satu sisi dan modernitas di sisi yang lain secara sekaligus. Pilihan ini memang cukup sulit, karena bisa jadi memilih berpegang teguh pada akar tradisinya, ia akan menolak modernitas. Akibatnya eksklusifisme sulit terhindarkan. Sementara memilih menerima modernitas bisa jadi akan meninggalkan akar tradisinya. Kedua, faktor situasi sosial-politik Indonesia, yakni situasi pasca reformasi yang tidak menentu, di mana masa transisi sedang berlangsung. Pada situasi yang tidak menentu inilah upaya mencari keagamaan alternatif menjadi sedemikian marak. Faktor kedua ini nampaknya menjadi penguat bagi faktor pertama.

Sementara mengenai pertanyaan bagaimana seharusnya kita dan juga negara mengambil sikap, buku ini menawarkan reformasi politik keagamaan. Kenyataan akan keragaman keberagamaan masyarakat harus ditempatkan pada posisi yang paling penting. Pada konteks inilah, buku ini meyakini bahwa gagasan agama sipil (civil religion) merupakan tawaran yang layak diapresiasi. Pilihan agama sipil merupakan upaya reformasi agama di tengah regulasi keagamaan dan transformasi global secara sekaligus. Selain itu, juga berupaya agar agama benar-benar fungsional. Dengan kata lain, agama harus siap untuk menjadi faktor penyeimbang dan kritik terhadap negara, dan mengakui pluralisme sebagai kenyataan yang tak terbantahkan.

Jika kita merunut karya-karya M. Mukhsin Jamil sebelumnya, seperti Tarekat dan Gerakan Sosial Politik (Pustaka Pelajar: 2004), dan Membongkar Mitos Menegakkan Nalar (Pustaka Pelajar: 2005), buku ini semakin meneguhkan penulisnya sebagai salah satu penulis yang kental dengan pendekatan sosiologis. Buku ini juga layak disebut sebagai karya paling awal yang hadir yang mengkaji fenomena munculnya agama-agama baru. Karenanya, tidak berlebihan jika cukup penting dipakai untuk rujukan bagi studi-studi selanjutnya.

Tetapi sayangnya, buku ini tidak “happy ending”. Pembaca yang belum memiliki wawasan cukup mengenai diskursus agama, negara, dan civil society, mungkin akan menemukan kesulitan menebak arah buku ini, karena tawaran penulisnya -yakni agama sipil- tidak ditemukan pada pembahasan akhir, kecuali pada bagian penutup. Pembahasan mengenai agama sipil justru ditemukan –itu pun secara sekilas- pada ulasan di bagian awal (bagian II). Selain itu, pembaca mungkin juga akan sedikit kecewa karena pembahasan per bab-nya kurang runtut, sehingga terkesan melompat-lompat. Tetapi pembaca tidak usah gusar, bahasa yang dipakai cukup akrab dan luwes, sehingga membantu pembaca memahami gagasan-gagasan dasar buku yang cukup menantang ini.