• Location : Betro, Klaten, Jawa Tengah
  • Owner : Ir. Sukamto and Laurentius Eriko
  • Architect : Riyanto Yosapat. ST
  • Contractor : Martaji Joko Susanto. ST
  • Built Project at : October 2006 – September 2007
  • Photographer : Riyanto Yosapat

by: riyan on 8th March 2008 (http://www.riyantoyosapat.com)

Rumah tradisional merupakan warisan nenek moyang yang harus dilestarikan. Ide tersebut yang mendasari pemikiran proyek ini. Rumah tradisional masyarakat jawa, yaitu rumah Joglo merupakan tempat tinggal yang mempunyai derajat sosial tinggi pada tatanan kehidupan masyarakat jawa. Pada perkembangan arsitektural sekarang ini, hal tersebut menjadi pudar dan hanya kalangan tertentu yang dapat memilikinya atau menginginkan bangunan tersebut menjadi bagian dari kehidupan rumah pribadinya. Rumah tradisional Joglo sekarang ini jumlahnya semakin sedikit di Indonesia, karena era modern menjadikan bangunan ini kurang diminati oleh masyarakat. Selain hal tersebut, rumah joglo memerlukan biaya cukup mahal untuk dibangun menggunakan material baru yang disebabkan banyaknya kayu yang dibutuhkan sebagai strukturnya, sedangkan jumlah kayu yang semakin menipis menimbulkan dampak harga kayu menjadi mahal, sehingga hanya kalangan tertentu yang dapat membangun bangunan ini denganmaterial baru. Proyek ini merupakan pelestarian budaya indonesia , walaupun dalam lingkup yang sangat mikro namun diharapkan dapat mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap dasar dari perkembangan arsitektural diindonesia.

Rumah tradisional joglo ini berasal dari Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta. Permintaan Owner untuk me Re-Desain kembali rumah peninggalan orang tuanya yang bertempat di desa Betro, Klaten, Jawa Tengah ini merupakan ide untuk mengembalikan fungsi lahan yang kosong pada halaman depan rumah Limasan. Dahulu pada lahan kosong tersebut berdiri bangunan tradisional berbentuk limasan dan berfungsi sebagai tempat berkumpul warga di desa tersebut, tetapi karena pembagian hak yang diberikan oleh orang tuanya kepada kakak dan adik sang owner, maka bangunan tersebut dipindahkan. Permintaan owner adalah mengembalikan fungsi lahan tersebut agar dapat digunakan kembali sebagai tempat berkumpul warga atau dipinjamkan kepada warga yang akan melakukan resepsi pernikahan ataupun untuk fungsi lainnya.

Rumah Joglo yang didapat di daerah Wonosari ini adalah jenis rumah joglo kampung ( jenis Rumah Joglo Lawakan ) dan telah berumur. Karena membutuhkan biaya hidup, maka sang pemilik merelakan untuk dijual dengan syarat bahwa bangunan tersebut agar dapat didirikan kembali seperti bentuk aslinya pada site yang baru. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri, karena Rumah Joglo kampung tidak mempunyai ornamen atau sering disebut “polosan” pada detail-detail konstruksinya. Rumah Joglo kampung ini mempunyai 16 buah tiang atau kolom sebagai penopang konstruksi atap yang terdiri dari 4 buah “saka guru” dengan masing masing tiang berukuran (15cm x 15cm) dan 12 buah tiang emper masing-masing berukuran (11cm x 11cm), serta mempunyai 5 buah “Blandar Tumpang Sari” lengkap dengan “kendhit”atau “koloran” yang berfungsi sebagai balok penyiku konstruksi utama bangunan tersebut. Keseluruhan bangunan asli menggunakanmaterial struktur kayu jati dan mempunyai ukuran 8,4 m x 7,6 m.

Mengingat ukuran site existing lebih besar daripada ukuran rumah Joglo yang dibeli, maka ide yang muncul adalah meninggikan pondasi masing-masing tiang atau “umpak” sebanyak 70 cm guna menambahkan tiang-tiang emper pada keseluruhan sisi luar bangunan sehingga bangunan ini menjadi lebih besar dan kemiringan atap dapat sesuai terhadap skala ruangnya. Karena penambahan emper tersebut, maka ada penambahan 9 buah tiang pada sisi luarnya, sedangkan pada sisi dalam, struktur usuk ditopang oleh dinding bangunan limasan di sisi belakang dan sisi kanan joglo, jika bangunan ini dilihat dari depan. Hal ini membuat keseluruhan tiang berjumlah 25 buah. Perbesaran ukuran bangunan ini di maksudkan untuk mengangkat derajat bangunan Joglo Kampung “Lawakan” menjadi lebih bersahaja menurut fungsinya. Pemakaianmaterial lantai jenis Tegel kombinasi warna hijau polos dan bermotif pada area tengah “saka guru” adalah expresi dari pekarangan luar yang hijau dan melingkupi bangunan ini. Finishingmaterial pondasi atau “umpak” yang ditinggikan 70cm menggunakan cor beton dan difinish dengan batu wonosari dimaksudkan sebagai cermin bangunan ini berasal. Pemakaian lampu spot pada empat penjuru yang diarahkan ke “blandar tumpang sari” dan sisi luar bangunan memberikan kesan hangat dan megah yang diharapkan dapat mengekspos keseluruhan struktur konstruksi yang sangat sederhana ini. Pemakaian pagar bambu setinggi 1,2 meter hanya berupa sekat sementara agar bangunan ini tetap terjaga perawatannya dan pagar ini dibuat dengan sistim knockdown. Keseluruhan konstruksi kayu difinish dengan clear coat agar tidak berjamur dan serat dari pamor kayu dapat dirasakan naturalnya.