Cari

kampungjoglo

::: bukan kampung biasa :::

Metamorfosis Gerakan Pemikiran Islam: Melanjutkan “Wajah Islam Hibrida” ke Civil Democratic Islam

Oleh:  Rusmadi

(Tulisan ini telah diterbitkan sebagai Epilog untuk buku “Wajah Islam Hibrida: Akar-Akar Kultural Pembentuk Identitas Islam”, LKP, 2009)

Buku dengan judul “Wajah Islam Hibrida” di tangan pembaca ini adalah salah satu dari sekian banyak ekspresi pemikiran keagamaan anak-anak muda (bahkan masih sangat muda) yang progresif. Hampir tak mengenal ruang kosong, saya menyaksikan bagaimana mereka begitu intens menyelami dunia pemikiran dan kajian Islam di setiap ruang kehidupan mereka. Buku ini boleh saja dicap macam-macam dengan nada sinis, tetapi semangat mereka yang membara dan tak kenal lelah mengkaji Islam adalah tak lebih dari sekedar mengikuti petuah-petuah ulama yang agung untuk selalu berijtihad. Karenanya, pemikiran-pemikiran mereka yang tertuang dalam buku ini harus diapresiasi. Toh kesempurnaan dan segala kepastian hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Continue reading “Metamorfosis Gerakan Pemikiran Islam: Melanjutkan “Wajah Islam Hibrida” ke Civil Democratic Islam”

Nuansa Hibrida Sastra Rendra; dari Sajak Sebatang Lisong

Oleh: Rusmadi

(Tulisan ini pernah diterbitkan di BSE Edukasi, edisi Oktober 2009)

Matahari terbit. Fajar tiba. Dan aku melihat delapan juta kanak–kanak tanpa pendidikan … Aku bertanya. Tetapi pertanyaan–pertanyaanku. Membentur meja kekuasaan yang macet. Dan papan tulis–papan tulis para pendidik. Yang terlepas dari persoalan kehidupan … Aku bertanya. Tetapi pertanyaanku. Membentur jidat penyair–penyair salon. Yang bersajak tentang anggur dan rembulan. Sementara ketidakadilan terjadi disampingnya. Dan delapan juta kanak–kanak tanpa pendidikan. Termangu–mangu di kaki dewi kesenian … Inilah sajakku. Pamplet masa darurat. Apakah artinya kesenian. Bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir. Bila terpisah dari masalah kehidupan.

Potongan bait-bait di atas adalah goresan mata tinta seorang Rendra yang berjudul Sajak Sebatang Lisong, salah satu dari sederet karya sastra Rendra yang mempesona. Saya mungkin alpa, saya bukanlah penikmat sastra yang baik. Bukan pula sastrawan, apalagi kritikus sastra. Saya bahkan pernah menaruh sinis pada dunia sastra yang dalam alam pikiran saya terlalu mengada-ada, mengawang, pemborosan, dan tidak taat asas. Saya bahkan pernah menyebut dunia sastra sebagai fundamentalisme dalam bentuk lain. Tidak lain karena (maaf) ekslusifnya dunia yang satu ini. Hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki sentuhan estetis yang mampu mengapresiasi dunia sastra secara apik. Continue reading “Nuansa Hibrida Sastra Rendra; dari Sajak Sebatang Lisong”

Kebangkitan “Agama Baru” di Indonesia

Oleh: Rusmadi

 

Resensi Buku

(Resensi ini pernah dimuat di Majalah INSIDE, edisi Oktober 2008). Judul Buku : Agama-Agama Baru di Indonesia. Penulis: M. Mukhsin Jamil, Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Tahun Terbit : Cetakan I, Maret 2008, Tebal: 214 + xxii

Kegelisahan publik tentang fenomena munculnya agama-agama baru mungkin sedikit terjawab, saat disuguhkan dengan hadirnya buku yang cukup menantang, Agama-Agama Baru di Indonesia, buah karya M. Mukhsin Jamil ini. Ia mencoba mengungkap fenomena menjamurnya “agama baru” yang menghebohkan di penghujung tahun 2007. Adalah Ahmad Mushaddiq yang mengaku sebagai nabi baru dengan gelar al-Masih al-Mau’ud (penyelamat yang ditunggu-tunggu), dan mendeklarasikan al-Qiyadah al-Islamiyah sebagai agama barunya. Continue reading “Kebangkitan “Agama Baru” di Indonesia”

Jejak-Jejak Konflik Hutan di Indonesia

Oleh: Rusmadi

(Tulisan ini merupakan pengantar editor untuk buku Konflik Hutan di Indonesia, walisongopress, 2009)

Beberapa kelompok warga tampak berbondong-bondong dan berjalan bergegas menuju truk pengangkut. Satu dengan yang lain saling membantu mengangkat glondongan kayu jati ke truk pengangkut itu dengan langkah yang begitu bersemangat. Kayu jati itu adalah hasil menebang dari hutan RPH di sebuah daerah di Jawa Tengah yang tidak begitu jauh dari desanya. Rupa-rupanya sudah menjadi kebiasaan jika warga desa sedang memiliki hajat pembangunan desa, mereka menebang kayu jati dan hutan RPH. Kegiatan penebangan illegal itu ternyata dilakukan melalui kesepakatan di bawah tangan antara oknum perangkat desa dengan oknum Perhutani setempat. Para warga yang mengambil kayu dari hutan tentu saja merasa telah aman karena perangkat desa telah memberikan sejumlah uang kepada aknum Perhutani tadi dan berjanji akan membagi rata kepada atasan-atasannya agar pengambilan kayu berjalan lancar sampai ke desanya. Continue reading “Jejak-Jejak Konflik Hutan di Indonesia”

Kyai dan Kontruksi Keadilan Gender

Oleh: Rusmadi

(Tulisan ini merupakan pengantar editor untuk buku Kyai dan Kesetaraan Gender, walisongopress, 2009)

Sangat terasa sekali dalam beberapa tahun belakangan ini, terjadi hiruk pikuk perbincangan tentang isu-isu gender, terutama menyangkut isu-isu hak perempuan yang terabaikan, terpinggirkan, dan tersingkir dari percaturan kehidupan dunia yang terlampau patriarkhis. Sejumlah diskusi, seminar, dan kajian-kajian yang intens telah dilakukan guna merespon isu-isu ketidakadilan gender. Tetapi, hampir tak bisa disangkal, perbincangan mengenai isu-isu kesetaraan gender memang tidak pernah tuntas. Selalu saja ada berbagai persoalan yang saling terkait dengan isu ini. Berlangsungnya ketimpangan gender yang telah berlangsung lama mungkin bisa jadi adalah pemicu megapa persoalan ini tampak rumit dan satu sama lain saling terkait.Isu-isu ketimpangan gender hampir pasti masuk ke sudut-sudut disiplin lain, baik dalam disiplin humaniora maupun disiplin non humaniora. Continue reading “Kyai dan Kontruksi Keadilan Gender”

Monoteisme Kristen

Oleh: Rusmadi

(Tulisan ini merupakan pengantar editor untuk buku Dialog Teologis Islam-Kristen, Walisongo Press, 2009)

Dalam sosiologi masyarakat yang heterogen secara religius, agama bisa saja muncul dalam wajahnya yang paradok. Di satu sisi ia mampu menjadi perekat dan integrasi sosial, tetapi tidak jarang juga justru memicu munculnya konflik dan disintegrasi sosial. Meskipun konflik ini tidak semata-mata karena faktor agama, tetapi rupa-rupanya, agama terkadang justru menjadi sumbu paling mudah menghantarkan konflik dan disintegrasi sosial itu. Pengalaman yang ditunjukkan oleh konflik agama antara Kristen dan Islam adalah sebagian dari peristiwa yang membenarkan argumentasi di atas. Konflik agama sejatinya hanya bisa diselesaikan oleh agama itu sendiri melalui tangan-tangan arif para pemuka dan pemeluk agama. Karenanya, dialog agama adalah satu hal yang mendasar yang harus dilakukan. Mungkin tidak hanya dialog sosiologis, tetapi juga dialog-dialog teologis. Continue reading “Monoteisme Kristen”

Civil Islam di Simpang Jalan

 

Oleh: Rusmadi

Tragedi kekerasan terhadap AKKBB (sebuah kelompok aliansi untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan) yang

Pergulatan Identitas: transformasi global seringkali menghasilkan kegagalan Civil Islam

dilakukan oleh kelompok Islam (tertentu) di Monas pada tanggal 01 Juni 2008 kemarin masih hangat dalam ingatan banyak orang. Monas berdarah, adalah salah satu dari sekian banyak peristiwa. Kita berkali-kali memang dikejutkan dengan berbagai kejadian yang begitu mengusik perasaan keberagaman kita yang begitu sensitif. Betapa tidak, semua berdalih atas nama agama lalu merasa memiliki otoritas untuk “menghakimi” kelompok lain yang secara kebetulan berbeda pemahaman keagamaannya. Jika hanya pada wilayah pemikiran, upaya penghakiman itu mungkin masih bisa dipahami dan dimaklumi, tetapi jika sudah menggunakan cara-cara kekerasan tentu saja menjadi sulit diterima akal. Ini sama saja sedang menampilkan tidak berkeadabannya pemeluk agama. Fenomena-fenomena tersebut jelas akan membawa proyeksi civil Islam di Indonesia pada situasi yang kalut, dan masa depannya menjadi tertekan –untuk tidak mengatakan terancam. Padahal civil Islam digadang-gadang memiliki peluang menjadi pemikiran alternatif di tengah tuntutan “kesalehan agama” dan “kesalehan negara”, atau menjadi pemeluk agama yang taat dan pada saat yang sama juga menjadi warga negara yang baik. Benarkah civil Islam mengalami quo vadis? Continue reading “Civil Islam di Simpang Jalan”

Kegagalan Total Politik Islam; Eksperimentasi Islam Kultural

n nggu

Oleh: Rusmadi

(Tulisan ini merupakan pengantar penyunting untuk buku Revitalisasi Islam Kultural: Arus Baru Relasi Agama dan Negara, Walisongo Press, 2008)

Sebagaimana dikatakan banyak orang, diskursus tentang agama, negara dan civil society di Indonesia memang selalu menarik untuk diamati, apalagi semenjak “bendera” reformasi dikibarkan sebagai tanda babak baru telah dimulai, tentu dengan wajah baru yang sama sekali berbeda dengan babak-babak sebelumnya. Reformasi memang telah merubah segala tata kehidupan masyarakat Indonesia, baik sosial-politik, maupun diskursus gerakan keagamaannya, seiring dengan dibukanya kran demokrasi. Gerakan-gerakan keagamaan (Islam) misalnya, muncul dengan sedemikian atraktif di pentas diskursus agama vis a vis negara. Eksponen gerakannya berdiaspora, mulai dari yang fundamentalis dan radikal, hingga yang moderat dan liberal. Bahkan, ketika situasi sosial-politik tampak memberikan ruang bagi ekspresi politik Islam, tidak jarang eksponen gerakan Islam pun banyak yang “coba-coba” mengais keuntungan dengan menerapkan strategi “total politik”. Bahkan gejala “total politik Islam” menjadi pilihan gerakan yang menonjol pasca reformasi, yang ditandai dengan munculnya beraneka ragam partai politik yang berbasis Islam seperti PKB, PAN, PBB, PKS, dll. Continue reading “Kegagalan Total Politik Islam; Eksperimentasi Islam Kultural”

Masa Depan Proyeksi Civil Islam

Oleh: Rusmadi

KWABagaimanapun, mengoptik proyeksi dan gagasan civil Islam tidak bisa dilepaskan dari perbincangan mengenai gagasan civil society yang begitu populer di berbagai belahan dunia saat ini, termasuk Indonesia. Istilah yang secara sederhana dimaknai sebagai masyarakat berkeadaban ini sering disebut-sebut mendapatkan rujukan tertuanya dari tradisi Kekaisaran Romawi yang berambisi untuk mengadabkan masyarakat di luar Romawi melalui aturan-aturan (civil code) agar berkeadaban sebagaimana masyarakat Romawi. Pada masa ini gagasan civil society selalu disamakan dengan masyarakat di luar militer. Pada perkembangannya, civil society akhirnya mengalami pergeseran. Pemikir-pemikir semacam Thomas Aquinas, Adam Ferguson, John Lock, J.J Rousseau, Thomas Paine, G.W.F Hegel, Alexis de Tocqueville, hingga Antonio Gramsci, adalah sederet pemikir yang mencoba mendefinisikan lebih lanjut mengenai istilah civil society ini dengan perspektifnya masing-masing. Gramsci misalnya, dengan gaya pemikirannya yang khas, ia menyebut bahwa civil society harus dikembangkan sedemikian lupa sehingga negara tidak diperlukan lagi, oleh karenanya di kemudian hari ia memiliki terminologi-terminologi lain, yakni civil society, political society, dan economic society. Continue reading “Masa Depan Proyeksi Civil Islam”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. | Tema Baskerville.

Atas ↑

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.