Metamorfosis Gerakan Pemikiran Islam: Melanjutkan “Wajah Islam Hibrida” ke Civil Democratic Islam

Posted in 24084, artikel kampungjoglo, filsafat dan budaya, khazanah, pemikiran keagamaan, politik dan perjuangan on 28 Januari 2010 by Rusmadi Hadiwidjojo

Oleh:  Rusmadi

(Tulisan ini telah diterbitkan sebagai Epilog untuk buku “Wajah Islam Hibrida: Akar-Akar Kultural Pembentuk Identitas Islam”, LKP, 2009)

Buku dengan judul “Wajah Islam Hibrida” di tangan pembaca ini adalah salah satu dari sekian banyak ekspresi pemikiran keagamaan anak-anak muda (bahkan masih sangat muda) yang progresif. Hampir tak mengenal ruang kosong, saya menyaksikan bagaimana mereka begitu intens menyelami dunia pemikiran dan kajian Islam di setiap ruang kehidupan mereka. Buku ini boleh saja dicap macam-macam dengan nada sinis, tetapi semangat mereka yang membara dan tak kenal lelah mengkaji Islam adalah tak lebih dari sekedar mengikuti petuah-petuah ulama yang agung untuk selalu berijtihad. Karenanya, pemikiran-pemikiran mereka yang tertuang dalam buku ini harus diapresiasi. Toh kesempurnaan dan segala kepastian hanya milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Baca selebihnya »

Nuansa Hibrida Sastra Rendra; dari Sajak Sebatang Lisong

Posted in 24084, artikel kampungjoglo, filsafat dan budaya, hobby kampungjoglo, khazanah, tradisi kampungjoglo on 28 Januari 2010 by Rusmadi Hadiwidjojo

Oleh: Rusmadi

(Tulisan ini pernah diterbitkan di BSE Edukasi, edisi Oktober 2009)

Matahari terbit

Fajar tiba

Dan aku melihat delapan juta kanak–kanak tanpa pendidikan …

Aku bertanya

Tetapi pertanyaan–pertanyaanku

Membentur meja kekuasaan yang macet

Dan papan tulis–papan tulis para pendidik. Yang terlepas dari persoalan kehidupan …

Aku bertanya. Tetapi pertanyaanku. Membentur jidat penyair–penyair salon. Yang bersajak tentang anggur dan rembulan.

Sementara ketidakadilan terjadi disampingnya. Dan delapan juta kanak–kanak tanpa pendidikan. Termangu–mangu di kaki dewi kesenian …

Inilah sajakku. Pamplet masa darurat. Apakah artinya kesenian. Bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir. Bila terpisah dari masalah kehidupan

Potongan bait-bait di atas adalah goresan mata tinta seorang Rendra yang berjudul Sajak Sebatang Lisong, salah satu dari sederet karya sastra Rendra yang mempesona. Saya mungkin alpa, saya bukanlah penikmat sastra yang baik. Bukan pula sastrawan, apalagi kritikus sastra. Saya bahkan pernah menaruh sinis pada dunia sastra yang dalam alam pikiran saya terlalu mengada-ada, mengawang, pemborosan, dan tidak taat asas. Saya bahkan pernah menyebut dunia sastra sebagai fundamentalisme dalam bentuk lain. Tidak lain karena (maaf) ekslusifnya dunia yang satu ini. Hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki sentuhan estetis yang mampu mengapresiasi dunia sastra secara apik. Baca selebihnya »

Kebangkitan “Agama Baru” di Indonesia

Posted in 24084, artikel kampungjoglo, khazanah, pemikiran keagamaan on 28 Januari 2010 by Rusmadi Hadiwidjojo

Oleh: Rusmadi


Resensi Buku

(Resensi ini pernah dimuat di Majalah INSIDE, edisi Oktober 2008)

Judul Buku      : Agama-Agama Baru di Indonesia

Penulis              : M. Mukhsin Jamil

Penerbit           : Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Tahun Terbit  : Cetakan I, Maret 2008

Tebal                 : 214 + xxii

Kegelisahan publik tentang fenomena munculnya agama-agama baru mungkin sedikit terjawab, saat disuguhkan dengan hadirnya buku yang cukup menantang, Agama-Agama Baru di Indonesia, buah karya M. Mukhsin Jamil ini. Ia mencoba mengungkap fenomena menjamurnya “agama baru” yang menghebohkan di penghujung tahun 2007. Adalah Ahmad Mushaddiq yang mengaku sebagai nabi baru dengan gelar al-Masih al-Mau’ud (penyelamat yang ditunggu-tunggu), dan mendeklarasikan al-Qiyadah al-Islamiyah sebagai agama barunya.

Jauh sebelum itu, kita juga dikejutkan dengan fenomena serupa. Kelompok Tahta Suci Kerajaan Eden pimpinan Lia Aminuddin (Lia Eden) muncul dengan begitu kontroversial. Lia mengaku mendapat wahyu dan menjadi juru selamat bagi manusia. Singkatnya berbagai agama baru muncul bak jamur di musim hujan. Spasial pertumbuhannya membentang luas di berbagai wilayah di seantero Nusantara. Kenyataan ini tentu saja semakin mengaburkan tesis sekularisme tentang kematian agama, karena yang muncul justru kebangkitan agama-agama dengan berbagai varian ekspresi keagamaannya. Baca selebihnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.